Kerakera berayun pada cabang pohon-pohon besar itu. Sampailah Timung Té'é pada sebuah pohon yang dihuni kera paling besar, gemuk, tambun dan tengkuknya padat berisi. Kera seperti itu orang Manggarai menyebutnya Kodé Seket. Sayur-sayuran hutan di sekitar pohon itu sangat banyak.
terhadapcerita rakyat, maka buku ini hadir dan menyajikan cerita lokal dari Kabupaten Manggarai Barat yang sarat dengan nilai budaya, pesan moral, dan penanaman budi pekerti pada anak-anak. Cerita MULA DESA GOLO NGGELANG ASAL yang berasal dari Kabupaten Manggarai Barat ini, menceritakan tentang harapan dan perjungan sepasang suami istri
Kekayaankebudayaan di Flores tentu merata di setiap penjuru. Manggarai sebagai salah satu wilayah kepulauan Flores tentu memiliki kekayaan kebudayaan. Kekayaan kebudayaan itu terwujud dalam banyaknya cerita rakyat yang ada di dalam masyarakat. Adapun salah satu cerita rakyat yang terkenal di dalam masyarakat yakni kisah si Pondik.
Tibalahmasa kemarau yang amat panjang. Oleh karena lamanya musim kemarau itu, banyak orang terancam kelaparan. Kemarau yang luar biasa itu dipertanyakan oleh masyarakat kepada Mosalaki sebagai ketua adat. Kemudian disimpulkan pula oleh masyarakat bahwa kemarau panjang yang mengancam itu akibat adanya kesalahan dan dosa warga masyarakat pula.
Berbagaiversi terkait kisah hidup Loke Nggerang dari sumber tokoh adat menceritakan bahwa Loke Nggerang merupakan anak hasil perseteruan manusia dengan "darat" (mahkluk dunia lain) dan ada juga yang menceritakan bahwa dia merupakan anak dari seorang petani tulen dari kampung Ndoso Kecamatan Golo Welu Kabupaten Manggarai Barat.
asalmula danau rana mese manggarai timur. ada zaman dahulu di kampung Teber(Manggarai Timur) hiduplah sepasang suami istri bernama Kae Anu dan Ngkiong Molas Liho. Mereka tinggal dalam sebuah rumah yang merupakan warisan dari orang tua Kae Anu. Rumah tersebut sudah sangat tua dan banyak sekali tiang dan papannya yang sudah lapuk termakan usia.
Lamakelamaan, hati ayah Tampe Ruma Sani pun Iuluh dan ia menikahi perempuan itu agar kedua anaknya ada yang mengurus. Kini, perempuan itu menjadi ibu tiri Tampe Ruma Sani. Tampe Ruma Sani pun senang karena tugasnya menjadi ringan. Ia tak perlu lagi mengerjakan pekerjaan rumah, semua sudah dilakukan ibu tirinya.
15 Cerita Rakyat Sumatera Barat, Dari Malin Kundang Hingga Danau Singarak. Cerita Rakyat Sumatera Barat - Selain terkenal dengan adat, Budaya dan kulinernya yang mendunia, Minangkabau juga dikenal dari beberapa Cerita rakyat yang sudah melegenda di tanah air, sebut saja seperti cerita Malin Kundang, Siti Nurbaya, legenda danau kembar
WxE8. 0% found this document useful 1 vote902 views2 pagesDescriptionMengisahkan asal usul Uumbu, tempat yang kini dijadikan PLTU oleh Pemerintag Daerah Kabupaten ManggaraiCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOC, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 1 vote902 views2 pagesCerita RakyatDescriptionMengisahkan asal usul Uumbu, tempat yang kini dijadikan PLTU oleh Pemerintag Daerah Kabupaten ManggaraiFull description
Dahulu disebuah dusun kecil bernama Ndoso, hiduplah seorang gadis cantik jelita bernama Nggérang. Dinamakan Nggerang karena kulitnya putih serta berambut pirang. Nggerang dipercayakan sebagai hasil dari perkawinan silang resmi antara manusia dengan makhluk halus dari alam lain, dalam bahasa setempat dinamakan kakartana atau darat atau juga disebut ata pelsina. Ayah Nggerang bernama Awang dan ibunya bernama Hendang. Hnedang ibunda Nggerang dipercayakan berasal dari alam lain atau darat atau kakartana dalam bahsa setempat. Namun, Putri Nggerang ditinggalkan ibunya semasa dia masih balita bukan karena meninggal secara jasmaniah melainkan karena ayah Nggerang, Awang telah melanggar pantangan sebanyak sebanyak tiga kali. Bagi Hendang itu adalah jumlah ayng tidak lumrah lagi. Kisah ini terjadi ketika Hendang pergi timba air, Nggérang yang masih bagi bayi dijaga dan digendong bapaknya memberi pesan kepada Awang. “jika anak ini menangis janganlah kau dendangkan lagu ini ipung setiwu, paké sewaé, téu sa ambong ikan kecil sekolam, katak sesungai, tebu serumpun. Namun ketika Hendang sedang pergi timba air yang cukup jauh dari rumah, Nggérang pun menangis. Lalu, Awang berupaya menghentikan tangisan anaknya Nggérang dengan mendendangkan banyak lagu namun tidak membuat ia berhenti menangis. Bahkan tangisannya menjadi semakin keras dank keras. Banyak sudah lagu didendangkan oleh Awang namun, Nggérang tak juga berhenti menangis, dan baru berhenti menangis ketika mendendangkan lagu ipung setiwu, paké se waé, téu se ambong ikan kecil sekolam, katak sesungai, tebu serumpun; lagu terlarang tersebut memang dilarang dan menjadi pantangan bagi Hendang, namun suaminya Awang tidak memahami sedikitpun larangan tersebut. Awang sama sekali tidak memahami larang untuk tidak menyanyikan lagu itu. Sebenarnya arti dari lagu itu adalah bahwa, mereka berasal dari dua alam berbeda yang dipersatukan melalui perkawinan. Pelanggaran pertama, dan kedua bagi Hendang masih dapat diingatkan berulang kali, Awang masih juga melanggarnya untuk yang ketiga yang ketiga-kalinya, tiada lagi kata ibunda putri Nggérang pergi meninggalkan kedua orang terkasihnya Awang suaminya sertaNggérang anaknya di dusun Ndoso. Perpisahan ini bukanlah perpisahan untuk sesaat, namun meninggalkan sumai serta Putri tercintanya yang masih bayi dengan tetesan airmata menggalir dipipinya. “Kau telah melanggar pantangan kita, meskipun aku telah mengingatkan kau berulang kali. Sekarang tidak ada maaf lagi, kita berdua terpaksa harus berpisah” kata Hendang. “Aku kembali ke rumah orang tuaku, sementara Nggérang sebagai buah hati kita tinggal bersamamu sebagai paca mas kawin atas diri saya, harap dipelihara dengan baik.”begitulah pesan hendang kepada suaminya deiringi isak tangis yang itu juga merupkan tangisan untuk yang teraklhir kali baginya. Mendengar pesan tersebut, Awang tidak bisa menjawab dan tidak berdaya, karena seketika itu Hendang berubah wujud menjadi seekor népa ular sawah, dan ketika di pegang sangat licin, sehingga dengan mudah ia pergi meninggalkan dusun Ndoso, untuk selamanya, karena setelah itu ia tidak pernah muncul lagi. Sepeninggal ibunya Hendang, Putri Nggerang diasuh oleh empat saudaranya; satu laki-laki dtiga wanita, anak dari istri ayanhanya yang pertama bernama Tana. Ayahnya beristri dua yaitu Hendang yang berasal dari alam seberang dan Tana manusia biasa. Pada saat Putri Nggerang menginjak usia remaja, kecantikannya semakin terlihat dan sangat memikat banyak hati para pemuda. Karena kecantikannya yang tiada taranya itu, banyak raja raja ingin meminangnya diantara Mori Reok atau Raja Reok dan raja banyak raja raja yang meminangnya yang tidak hanya kaya tapi juga berparas menawan Nggerang menolaknya tanpa satupun diantaranya dapat memikat hatinya. Bahkan raja Bima dari pulau lain yang sedang berkuasa kala itu yang terletak diujung Timur pulau Sumbawa. Pulau berbeda dengan Nggerang. Nggerang gadis cantik nan aneh ini memang memiliki sesuatu yang ajaib dalam dirinya. Ini memang sangat mungkin karena memang dia adalah hasil dari perkawinan Tentang raja Bima, , konon ceritanya ia selalu melihat cahaya yang terpancar ke langit yang berasal dari daerah tersebut sesungguhnya berasal dari kulit emas putri Nggérang yang tumbuh pada punggung bagian atas, berbentuk bulat dan besarnya seukuran bulatan mata gung. Sultan Bimapun mengutus seorang abdi kerajaan bersama beberapa orang prajurit kerajaan ke Manggarai yang terletak diujung barat pulau Flores guna melacak cahaya dilacak dan yakin cahaya tersebut dimiliki oleh seorang putri cantik dan masih remaja bernama Nggérang yang tinggal di dusun Sultan Bima mempersiapkan diri untuk berangkat ke Manggarai untuk meminang putri Nggérang. Ketika Sultan Bima tiba di Ndoso, meskipun masyarakat menerimanya dengan baik. Namun sangat disayangkan, ketika Sultan Bima menyampaikan isi hatinya untuk meminang putri Nggérang yang cantik dan masih remaja itu, Nggerang menolaknya tanpa syarat. Raja Bima menjadi sakit hati dan dendam kepada Nggerang Lantaran Cintanya ditolak Putri oleh Nggerang tanpa syarat. Raja Bima lalu mengancam dengan mengirimkan magic magic ke dusun Ndoso. Seluruh dusun Ndoso diselimuti awan tebal kehitam-himan. Fenemona inipun hingga saat ini masih dikenal dengan sebuta rewung taki tana literally “Jika Nggerang tidak juga sedia menerima pinanganku, awam ini tak akan berhenti.”Ancam Mori Dima atau Raja Bima. Bagi orang setempat fenomena awan tebal yang meyentuh tanah itu sangatlah membahayakan kehidupan mereka. Karena mereka tidak bisa berbuat apaapa dalam kondisi salam seperti itu. “ Oh…Molas Nggerang terimalah saja lamaran itu supaya awan ini segera hilang dan kami bisa bekerja lagi” jeritan penduduk setempat. Namun bagi Nggerang, awan tebal itu bukanlah demi ancaman tak digubris oleh Putri Nggerang hingga akhirnya raja Bima tak sabar lagi ingin membunuh Putri berbekal sebagai raja berkuasa atas tanah manggarai termasuk Ndoso saat itu, Sultan Bima menyuruh orang tua Nggerangmembunh Putri Nggerang dan kulitnya genderang di bawa ke Bima dan satu genderang disimpan di Ndoso. Bagi Orang tua Nggerang meskipun permintaan Sultan Bima tersebut terasa karena ini permintaan Sultan Bima yang juga sebagai Raja yang berkuasa di daerah Manggarai ketika itu, maka orang tua putri Nggérang pun tidak bisa menolak. Berbagai usaha dilakukan oleh orang tua putri Nggérang, seperti memotong kerbau, kemudian kambing, dan kulitnya dibuatkan genderang, tetapi tidak mengeluarkan bunyi seperti yang diinginkan dan cahaya yang memancar ke langit pun tidak hilang; tetap kelihatan dari kerajaan terus-menerus dpaksa oleh Sultan Bima, akhirnya pada suatu hari orang tua Nggerang yang bernama Awang mengajak putri Nggérang mencari kutu rambutnya dan Nggerang menyetujui niat ayahnya tanpa menyangka bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Bersamaan dengan itu Awang mencabut beberapa helai rambutnya dan disimpan dalam tabung kecil, dan hal tersebut tidak menimbulkan efek atau pengaruh apa-apa. Kemudian ia mencungkil kulit emas yang berbentuk bulat sebesar mata gung dipunggungnya agar tidak memancarkan cahaya lagi, namun seketika itu putri Nggérang meninggal. Sadar bahwa Putrinya telah meninggal, maka Awang mencungkil sekalian kulit punggung bersama kulit emas dan kulit perutnya untuk dibuatkan genderang. Jadi, sesungguhnya ada dua gendrang yang dihasilkan dari kulit tubuh Putri Nggerang; Satu yang dibuat dari kulit emas di punggung Ngerang dikirim ke para pembawa, bukanya mereka bawa ke bima melainkan ke Sumbawa dikarenakan arus deras si selat Gili Banta. Jadi, gengrang tang terbuat dari kulit emas it keberadaanya bukan di Bima melainkan di Sumbawa hingga saat ini. Sementara satunya lagi yang terbuatdari kulit perut disimpan di Ndoso. Namun, selang beberapa hari setelah Nggerang meninggal, beberapa pemuda dari Todo dengan rombongan yang cukup banyak datang ke Ndoso meminta gendrang tersisa itu dengan sebagian kulit emas dari punggung ditanamkan di bukit Tingku Romot dekat Reo***
1. Pendahuluan Kehadiran tradisi lisan di daerah Flores sangat berperan penting dalam mewarisi kebudayaan. Melalui tradisi lisan suatu kebudayaan dilindungi dan dilestarikan. Adapun bagian dalam tradisi lisan masyarakat yakni cerita rakyat. Cerita rakyat dipandang sebagai salah satu media untuk mengajarkan nilai moral kepada sesama khususnya anak-anak. Cerita rakyat disetiap daerah di Flores tentu memiliki cerita masing-masing yang sarat akan nilai moral. Kehadiran cerita rakyat sangat membantu dalam membentuk karakter seseorang. Penyampaian cerita itu sendiri tentu menggunakan bahasa sehari-haribahasa daerah. Hal ini merupakan satu poin unggul dari cerita rakyat, karena pesan moralnya akan lebih cepat diinternalisasi kepada pendengar. Keberadaan cerita rakyat di dalam kebudayaan mengalami perkembangan yang positif. Beberapa tahun belakang cerita rakyat telah digunakan sebagai media untuk menjelaskan pesan injil. Dalam kegiatan katekese, cerita rakyat digunakan untuk membuat pesan injil mudah dimengerti. Menyadari pentingnya peranan cerita rakyat, maka menjelaskan relevansi cerita rakyat dengan pesan injil merupakan suatu keharusan. Oleh karena itu dalam paper singkat ini penulis akan menjelaskan pentingnya cerita rakyat dalam kegiatan katekese. 2. Pengertian Cerita Rakyat Cerita rakyat adalah kisah yang aslinya beredar secara lisan dan kepercayaan masyarakat, seperti mite.[1] Seturut pengertian ini, maka perlu juga dibahas mengenai pengertian sasta lisan, karena cerita rakyat merupakan bagian dari sastra lisan. Sastra lisan merupakan bagian dari kesusastraan yang diungkapkan secara lisan dan diiwariskan turun-temurun dalam suatu masyarakat. Banyak karya satra yang sudah tertulis, namun bila ditinjau secara historis, pada mulanya lebih banyak karya sastra yang bersifat lisan seperti pantun, gurindam, seloka, syair, dongeng, mite, legenda, peribahasa, dan lain-lain.[2] Dari pengertian di atas, penulis mengambil garis tengah bahwa cerita rakyat merupakan salah satu tradisi lisan di dalam masyarakat yang diwariskan turun-temurun dan mempunyai pengaruh terhadap perkembangan suatu kebudayaan. Pengaruh dari cerita rakyat dapat ditemukan dalam inti dari cerita rakyat yang mengandung ajaran moral. Dalam konteks masyarakat Manggarai, cerita rakyat dijadikan sebagai media untuk mengajarkan nilai moral kepada anak-anak. 3. Cerita Rakyat dalam Kebudayaan Masyarakat Manggarai Kekayaan kebudayaan di Flores tentu merata di setiap penjuru. Manggarai sebagai salah satu wilayah kepulauan Flores tentu memiliki kekayaan kebudayaan. Kekayaan kebudayaan itu terwujud dalam banyaknya cerita rakyat yang ada di dalam masyarakat. Adapun salah satu cerita rakyat yang terkenal di dalam masyarakat yakni kisah si Pondik. Bahasa Manggarai Neka Leling Laing Tiong gerak tana to’o hi pondik kengko le enden kudu teneng nda’uk hang gula. Ae gula hitu hia kut ngo sili Borong ba ca karung cengkeh ata poli tihong liha lete ho’o. Bengkes keta nain hi pondik leso hitu hia kole sili mai Borong ba seng do. Le denge tae kudu ngo ba cengken hi Pondik cenggeloat kole enden to’o kudu teneng nda’uk. Konem po penong loek ki one matan koes kaut. Co’o bo nuk koen ae kudu ngo emi seng do hi Pondik one baba sili borong. Gerak koen kaut tana lako hi Pondik ga agu teti ca karung cengkeh. Konem ko mendos cengkeh situ landing toe keta gesar calan le Pondik. Hio bo nuk wa nain tamat kole ba seng do to’ong sili mai Borong. Ae bae liha harga cengkeh ca kilo sili Borong Rp. 120 sebu. Eme cempulu kilod ba diha leso hitu nekin ga ba kole seng sili mai bab Rp. 1,2 juta Toe beheng ngai leso hitu cai sili Borong hi Pondik. Co’o bo tara gelang lakon kudu gelang koe kole ba seng do. Eme poli tibad seng cengkeh situ kudu crnggo koe weli ikang ta’a sili Pasar Borong. “Baba aku ba cengkeh bo cempulu Kilod e. Timbangs kali ga,” tae de Pondik agu baba ata weli cengkeh. Nggo’o ye tombo muing laku. Harga cengkeh leso ho’o toe cama one sua Rp. 120 sebu ca kilo. Leso ho’o pa’u wa ga’as Rp. ca kilo. Eme gorid kali ite kudu timbangs ga,” Tae de baba agu pondik.’desep muing dara wekin hi Pondik. Ae toe manga dengen liha neho meseng main te pa’u harga cengkeh situ bo. Cewen kole bengkes nai diha maing one mai beo harga cengkeh situ Rp. 120 sebu ca kilo. Emon keta wa nukn hitu po ngo kole one baba hi pondik. “Ta baba com timbangs kali ga, taem co’o koley, racek cee ite cengkeh so’o bo ga,” tae de Pondik agu baba agu mendo kin nain. Poli tiba seng situ toe ngai ngon weli ikang ta’an hi Pondik. Nggeluk kaut lakon kole nang one beon. Toe manga neho olomain, ua agu pa’ang agu ngela sa’i. Leso hitu agu rengut sa’in. Nia ba ikan ta’am bo hau ta nana agu co’o tara rengut terus sa’im. Dion keta olo mai hau eme kole ba cengkeh nenggitu ngela keta sa’im, imus terus agu ba ikang ta’a,” tae de enden Pondik. “Ae ende com poka taungs dite pu’u cengkeh sio lau uma ga. Toe gunan piara cengkeh dite pande puar bo uma kaling ko teo manga hargad ga.” Nggitu tae de Pondik agu enden. Ooooo ali hitu bo hau tara toe weli ikang ta’am agu rengut terus rangam ko? Nana konem po pa’us harga cengkeh landing toe keta sendo laku ata pokas. Maram tama manga pu’ud. Bom bae ntaung musi harga di’a koles. Neka leling laing nana. Lelo lehau vanili sio. Pisa ntaung olo pa’u da’at hargad. Sanggen taung ata beber taung vanili ali cempeng. Landinh ho’o nana ga woko toe manga vanilii data harga ga nang Rp. 2 juta ca kilo. Goam taung ata ae toe manga vanili ga,” wale de ended Pondik agu ngedu toe jadi poka pu’u cengkeh hi Pondik. Bahasa Indonesia Jangan Putus Asa Sebentar lagi matahari akan terbit, Pondik membangunkan ibunya untuk memasak nasi untuk makan pagi. Karena pagi itu dia akan ke Borong menjual cengkeh satu karung yang ia kumpulkan selama ini. Harapannya setelah pulang dari Borong ia membawa uang banyak. Mendengar Pondik akan ke Borong menjual cengkeh ibu Pondik langsung bangun untuk memasak nasi untuk makan pagi, walaupun dimatanya masih penuh kotoran. Dengan penuh harapan Pondik membawa uang banyak dari Borong. Setelah matahari agak terang, Pondik jalan dan membawa satu karung cengkeh. Walaupun berat tapi dia tidak pernah mengeluh karena dalam hatinya yang penting membawa uang banyak dari Borong. Karena dia tahu harga cengkeh Rp. 120 per kilo. Dia bayangkan kalau 10 kilo berarti dia akan bawa uang Rp. 1,2 juta. Tidak lama ia berjalan, tibalah di Borong. Dengan harapan cepat pulang bawa uang banyak. Rencananya setelah jual cengkeh ia singgah beli ikan mentah di Pasar Borong. Sampai di tempat jual cengkeh, Pondik langsung menawarkan cengkeh yang dibawahnya. Ia memberitahu baba bahwa cengehnya ada 10 kilo. Ia menyuruh baba untuk menimbang cengkeh itu. “Begini Pondik, saya beritahu memang, harga cengkeh hari ini tidak sama dengan harga cengkeh kemarin. Harga cengkeh hari ini turun menjadi Rp. satu kilo. Kalau mau supaya say timbang” kata baba. Pondik langsung merasa terpukul, karena ia tidak pernah mendengar selama ini kalau harga cengkeh menurun. Padahal dalam hatinya dari kampung tadi harga cengkeh Rp. 120 per kilo. Setelah lama berpikir, Pondik lalu pergi ke baba,” biar sudah baba, timbang saja ini cengkeh, mau bagaimana lagi? Cengkeh sudah ada di sini,” kata pondik, walapun dengan berat hati. Setelah menerima uang ia langsung pulang ke kampung dan tidak jadi membeli ikan mentah. Sesampai di rumah, mukanya merengut terus. Tidak seperti sebelumnya yang selalu ceria. “Mana ikan mentahnya? Dan kenapa kau punya muka merengut terus? Padahal selama ini kau selalu ceria kalau pulang jual cengkeh dan selalu membawa ikan mentah,” kata ibunya. “Begini ibu, sebaiknya kita tebang saja pohon cengkeh yang ada di kebun, sebab tidak ada gunanya pelihara cengkeh, hanya bikin rimbun kebun saja, karena tidak ada harga jualnya,” kata Pondik sambil emosi. “Ooooo itu alasannya kau tidak beli ikan mentah dan muka merengut terus. Pondik biarpun harga cengkeh turun, saya tidak akan setuju jika pohon cengkeh ditebang! Biar pohonnya tetap ada, mungkin tahun depan harganya naik lagi. Jangan putu asa Pondik!, vanili beberapa tahun lalu tidak ada harga jualnya, makanya semua orang membabat vanili karena kecewa dan marah. Coba lihat sekarang, karena tidak ad lagi tanaman vanili maka harganya sangat mahal, Rp. 2 juta per kilo, semua orang menyesal karena tidak ada vanili” Jawab ibunya Pondik. Mendengar jawaban ibunya, Pondik tidak jadi menebang pohon cengkeh. 4. Pengertian Katekese Kateketik berasal dari kata Yunani Katechein. Bentukan dari kata Kat yang berarti pergi atau meluas, dan dari kata Echo yang berarti menggemakan atau menyuarakan keluar. Jadi Katechein berarti menggemakan atau menyuarakan ke luar. Kata ini mengandung dua pengertian. Pertama Katechein berarti pewartaan yang sedang disampaikan atau diwartakan. Kedua Katechein berarti ajaran dari para pemimpin[3]. Menurut kamus liturgi, Katekese berasal dari bahasa Yunani katekein, artinya mengajar. Katekese adalah karya pendidikan agama, terutama untuk calon-calon baptis; atau pelajaran agama untuk menjelaskan pokok-pokok iman dan hidup kristen kepada anak-anak dan umat, untuk memperkenalkan kebenaran iman dan memperdalam hidup menurut iman tersebut[4]. Istilah Katechein yang digunakan oleh umum lama-kelamaan diambil oleh orang Kristen menjadi istilah khusus dalam bidang pewartaan Gereja. Kata Katechein menjadi istilah teknik untuk pelbagai aspek ajaran Gereja. Secara ilmiah kateketik dimengerti sebagai pemikiran sistematis dan pedagogis tentang pewartaan Injil, ajaran Tuhan dan ajaran Gereja kepada manusia dalam hidup konkretnya. Sedangkan segala macam usaha penyampaian ajaran, pendidikan agama atau ajaran Gereja disebut katekese[5]. [1] Save M. Dagun, Kamus Besar ilmu Pengetahuan JakartaLembaga Pengkaji Kebudayaan Nusantara, 2013 Hlm. 1595. [2] LEMBAGA ENSIKLOPEDIA NASIONAL INDONESIA, Ensiklopedia Nasional Indonesia Jakarta PT. Delta Pamungkas, 2004, Hlm. 433. [3] Jakop Papo, Memahami Katekese Ende Nusa Indah, 1987, Hlm. 11. [4] Ernest Maryanto, Kamus liturgi sederhana Jakarta Kanisius, 2004, Hlm. 96. [5] Jakop Papo, loc. Cit.